AAUI mencatat premi asuransi properti semester I turun 13,6 persen menjadi Rp15,51 triliun, sementara klaim naik 75,8 persen menjadi Rp5,78 triliun.
Tim Panduan Veritasindo · Diperbarui

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) merilis kinerja lini properti pada semester I 2026. Premi tercatat Rp15,51 triliun, turun 13,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, klaim naik 75,8 persen menjadi Rp5,78 triliun.
Angka ini penting dibaca berpasangan. Premi industri yang menyusut tidak otomatis berarti rumah atau toko lebih aman. Klaim yang melonjak justru mengingatkan bahwa risiko kebakaran, banjir, dan kerusakan bangunan tetap terjadi.
Menurut data AAUI yang dikutip Bisnis.com, pada semester I 2025 premi properti masih tumbuh 8,1 persen menjadi Rp17,95 triliun dengan klaim Rp3,29 triliun. Dalam setahun, klaim hampir dua kali lipat sementara premi menyusut. Kontan mengaitkan penurunan premi dengan siklus bisnis dan berkurangnya objek pertanggungan, misalnya pabrik yang tutup.
Bagi pemilik rumah dan debitur KPR, bank sering mensyaratkan asuransi kebakaran. Yang perlu dicek bukan hanya "sudah berasuransi", tetapi apakah nilai pertanggungan masih sesuai harga bangunan dan apakah banjir atau gempa sudah masuk perluasan.
Penjelasan jenis jaminan FLEXAS, Property All Risk, dan perluasan banjir tetap ada di panduan properti kami. Artikel ini hanya merangkum angka industri terbaru, bukan rekomendasi membeli atau membatalkan polis.
Tidak otomatis. Angka AAUI adalah agregat. Premi per polis tetap dihitung dari nilai pertanggungan, lokasi, dan perluasan jaminan.
AAUI mencatat klaim properti naik 75,8 persen. Di tingkat individu, penyebabnya beragam: kebakaran, banjir, atau kerusakan lain yang masuk jaminan.
Pastikan harga pertanggungan masih mendekati nilai bangunan, dan cek apakah banjir serta gempa sudah masuk perluasan.
Panduan ini bersifat informasi umum. Ketentuan polis berbeda di setiap perusahaan, jadi rujuk polis dan ringkasan informasi produk dari perusahaan asuransimu.